Menu Click to open Menus
Home » INFORMASI » Rasakan Suasana Abad 16 Di Desa Wisata Gamplong Moyudan Sleman

Rasakan Suasana Abad 16 Di Desa Wisata Gamplong Moyudan Sleman

(101 Views) June 25, 2018 4:43 am | Published by | No comment

DimasDiajeng.Com, Sleman – Sutradara asal Yogyakarta Hanung Bramantyo membuat sebuah studio alam film di Desa Wisata Camplong, Sleman Yogyakarta. Pengunjung yang melihat ke tempat tersebut akan dibawa ke suasana abad 16. Iqbaal Ramadhan rencananya akan syuting Bumi Manusia di tempat ini.

Sekilas Desa Wisata Gamplong

Desa wisata Gamplong, terletak jauh dari keramaian kota Yogyakarta sekitar 16 km dari titik nol kilometer atau pusat Kota Yogyakarta. Hamparan sawah yang membentang luas menjadi penghibur mata dalam perjalanan menuju tempat tersebut.

Akses yang ditawarkan masih terbilang alami karena belum terjangkau oleh angkutan umum, sehingga untuk berkunjung kesana harus membawa kendaraan pribadi.

Sebagai sentra kerajinan tenun, desa wisata yang terletak di Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman ini sangat cocok dikunjungi oleh wisatawan. Pasalnya, alat kerajinan yang digunakan masih merupakan alat tradisional tanpa mesin. Hasil kerajinanya pun beragam, mulai dari pernak-pernik, hingga stagen wanita.

Mini Hollywood bagi Kemajuan Pendidikan Sejarah

Studio Alam Gamplong merupakan salah satu kekayaan desa selain kain tenun. Studio milik Hanung Bramantyo, seorang sutradara terkenal yang berkolaborasi bersama Mooryati Soedibyo serta beberapa arsitek terkenal mampu membawa pengunjungnya terlempar pada abad ke-16. Hal tersebut  yang membuat Studio Alam Gamplong dijuluki sebagai “Mini Hollywood”.

Bertemakan sejarah, Studio Alam Gamplong dibangun atas dasar pengembangan dan sarana pendidikan sejarah, khazanah budaya, serta peningkatan perekonomian masyarakat desa. Pemilihan Desa Wisata Gamplong dikarenakan desa tersebut cukup bisa mewakili keinginan dari Hanung Bramantyo dan rekan-rekannya.

Berdiri di atas lahan sebesar 2,7 hektar milik Desa Sumberrahayu, pembangunan ini dimulai sejak Desember 2017. Mendapatkan dukungan dari Dapur Film dan pemerintah Yogyakarta membuat pembangunan Studio Alam Gamplong berjalan lancar.

Syuting Film Layar Lebar dan Antusiasme Warga

Sultan Agung, menjadi film layar lebar pertama yang menggunakan Studio Alam Gamplong sebagai lokasi penggambilan gambar. Berlangsung pada bulan Februari – Maret silam, ternyata kegiatan tersebut mendapat antusiasme dan dukungan besar dari masyarakat sekitar. “Lokasi ini memang dibangun untuk proses pembuatan film,” ujar Anang Gentong (23), seorang warga yang diberikan mandat menggurus dan menjaga tempat tersebut.

Pengambilan gambar dari film layar lebar Sultan Agung membuat beberapa bangunan semi permanen telah berdiri gagah di tempat ini. Keraton Mataram, menjadi jantung Studio Alam Gamplong. Begitupula dengan komplek Kampung Mataram yang menggambarkan kehidupan masyarakat zaman tahun 1600.

Tak ketinggalan, di sisi lain dari Studio Alam Gamplong terdapat rumah jawa kuno yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan dilengkapi dengan kandang sapi dan gerobak kayu. Seolah belum cukup, masih ada Kampung Belanda lengkap dengan benteng VOC, Kampung Pecinan, dan aliran Sungai Ciliwung yang diatasnya terdapat sebuah jembatan besi.

Setelah film Sultan Agung, terdapat film layar lebar kedua yang juga akan menggunakan Studio Alam Gamplong sebagai tempat pengambilan gambar. Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, film layar lebar ini merupakan kisah yang ditulis Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia, diangkat oleh Falcon Picture, dan Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

Pembangunan Belum Selesai

Mendukung proses pengambilan gambar film Bumi Manusia pada bulan Juli – Agustus mendatang, pembangunan sarana sebagai properti yang menunjang masih dilakukan. Pasalnya, beberapa bangunan belum dibangun dan ada pula yang memerlukan tambahan serta perbaikan lebih lanjut.

Terlihat banyak pekerja yang masih mempersiapkan komplek Kota Kranggan, Surabaya pada era 1908 sebagai latar film Bumi Manusia. Terdapat juga rumah megah yang dibangun menggambarkan bahwa rumah tersebut dihuni oleh tuan tanah. Selain itu, miniatur rel kereta api lengkap dengan gerbong kereta juga dibangun demi kelancaran proses pembuatan film.

Tangan Jahil Pengunjung

Sempat dibuka untuk umum selama beberapa hari, ternyata kunjunganku di siang hari ini hanya dapat menikmati Kraton Mataram dan Perkampungan Belanda yang terdapat di dalam Benteng VOC dari luar saja. Penutupan kembali tempat tersebut untuk umum bukan tanpa alasan. Pasalnya banyak tangan jahil yang menggangu barang yang masih berguna dalam pembuatan film Bumi Manusia.

“Di dalam Benteng VOC banyak kereta, sayangnya setelah dibuka kemarin, kaca kereta pada pecah karena dilempar batu sama pengunjung. Belum lagi barang-barang dari kayu yang rusak,” ungkap Anang, sembari menunjuk kearah benteng VOC.

Ia juga mengaku tak mempermasalahkan tempat tersebut dibuka untuk umum kalau saja tangan jahil tersebut tidak menggangu dan merusak. “Sebenarnya kasihan, hanya karena ulah oknum tertentu tempat ini terpaksa ditutup lagi,” ujarnya.

Belum adanya tenaga kerja yang menjaga bagian dalam Studio Alam Gamplong yang menjadi masalah. Anggaran yang masih dipersiapkan dan proses pembangunan yang masih berjalan menjadi alasan untuk menunggu tempat itu dibuka lagi untuk umum lain waktu.

Studio Alam Gamplong Akan Jadi  Destinasi Wisata

Studio Alam Gemplong nantinya akan berakhir sebagai destinasi wisata yang akan dikelola oleh desa. “Untuk kedepannya akan menjadi tempat wisata yang lebih baik lagi, terutama setelah seluruh kegiatan syuting di tempat ini selesai,” ungkap Anang. Belum menjadi destinasi wisata saja, sudah terlihat banyaknya pengunjung yang ingin mengambil foto di tempat ini.

“Pertama lihat dari instagram teman, jembatannya bagus buat foto dan  ikonik banget,” ujar Rosaline (18), warga Sedayu yang menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke Studio Alam Gamplong. Untuk saat ini, belum dikenakan biaya masuk dan tarif parkir masih bersifat sukarela dimasukkan kedalam kotak yang tersedia.

Categorised in:

No comment for Rasakan Suasana Abad 16 Di Desa Wisata Gamplong Moyudan Sleman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *